“Selamat sore, ibu. Ibu tadi pesan taksi online ya?”
“Ya, betul. Kira-kira berapa lama lagi ya akan tiba?”
“Sebagaimana sistem yang ibu pilih, ibu akan menumpangi kendaraan ini bersama seseorang lagi yang lainnya, dan saya harus menjemput beliau terlebih dahulu. Saya perkirakan akan tiba di tempat ibu sekitar 10 menit lagi.”
“Baiklah, saya akan menunggu.”
“Alamatnya sesuai dengan yang tertera kan?”
“Ya.”
“Baiklah ibu, terima kasih bersedia menunggu”
Telpon pun ditutup. Aku menghela napas panjang. Sore ini, seperti sore – sore sebelumnya, langit sedang tidak bersahabat. Hujan sebentar, kemudian terang, tidak lama hujan lagi, dan begitu seterusnya. Aku tidak merasa keberatan dengan itu, seandainya saja aku tidak memiliki banyak kerjaan dan pertemuan yang harus kuhadiri. Tapi, harus kuakui, berjalan dari Depok hingga Kebayoran, dengan cuaca seperti ini, dan budget terbatas mahasiswa (membuatku praktis tidak bisa menyewa taksi standar yang nyaman), menjadikan aku sedikit merasa malas, ditambah lagi, pria itu… Tapi karena hujan sudah turun, aku tidak mau kebasahan terguyur hujan, ya akhirnya aku memesan juga si sistem kendaraan mobil online.
DRRT… DRRT…
‘Maaf baru membalas, aku sedang amat sibuk…..
Ok, aku paham.
Hmm, tidak, aku tidak tahu film baru itu, mungkin menarik
Coba saja nanti kau tonton’
Ponselku bergetar, salah satu SNS ku memberikan notifikasi.
Hujan, menunggu, dingin, sendirian, dan pesan pria itu… Orang yang coba kuusir dari kepalaku beberapa bulan terakhir, yang justru di saat aku sedang puas akhirnya dia menghilang dan mengabaikanku, dengan kurang ajarnya kembali masuk dan menari-nari dalam ceritaku. Mengacuhkannya? Aku tidak bisa. Jauh dalam diriku, aku masih berharap pada sesuatu, yang entah apa.
‘Oh Tuhan! Aku tahu Kau memang amat baik, tetapi mengapalah kau membuat cerita hidup asmaraku se rumit ini, se bodoh ini. Seharusnya kan aku sudah cukup paham untuk pergi, dia sudah cukup jelas mengisyaratkan ketidakperduliannya atas hidupku, tidak mau lagi terusik atas hidupku. Tetapi, tetapi, ah Tuhan? Aku sedang tidak salah sambung atau kehabisan pulsa kan? Doaku sampai kan?’
Sial. Terlalu dalam berpikir membuatku lapar. Aku rasa aku harus menyerbu tukang jualan yang sedang berteduh di depan kantor ini.
——— GPS dan Tuhan ———-
Sementara menggigit gorengan yang kupegang, samar-samar, di tengah hujan, aku bisa melihat mobil berwarna hitam itu membelah hujan, melangkah dengan gagah, dan berdiri di depan kakiku. Dari balik kaca jendela mobil yang mulai berembun, bisa kulihat pengemudi nya, seorang wanita dengan wajah teduh. Di sampingnya duduk seorang pria, berkacamata, dengan brewok yang lebat, matanya mengamati sekitar dengan awas, dan memeluk tas dengan erat seakan-akan seseorang akan mencuri tas itu darinya.
Kaca jendela mobil turun sedikit, “Ibu Bintang, kan?”
“Ya.” Aku menjawab dengan pendek, sembari masuk dengan tergesa-gesa, tidak mau kebasahan oleh air hujan.
“Sudah siap berangkat, Bu?” Pengemudi itu berujar dengan amat ceria.
“Ya, tentu saja.” Aku menjawab, sambil tersenyum tipis, tanpa bermaksud melirik siapapun yang duduk di depan sama sekali. Pesan singkat tadi sejujurnya cukup mengacaukan suasana hatiku, yang memang sudah kepalang buruk sejak kemarin sehingga aku tak ingin berpura-pura ‘baik-baik saja’, termasuk untuk memperdulikan orang lain. Namun, dari sudut mataku, aku bisa merasakan si pria itu melirikku sekilas.
“Ibu, saya tidak tahu siapa yang harus diantarkan duluan, yang jelas, sesuai pelatihan yang saya terima, saya harus mengantarkan alamat manapun yang ditunjuk oleh GPS, apakah tidak masalah?”
“Iya, tidak apa-apa. Aku juga sedang tidak terburu-buru.” Kataku singkat.
“Tapi, memang ada kemungkinan bahwa ibu yang diantarkan terlebih dahulu, sih,” Ujar sang pengemudi sekali lagi setelah mengutak – atik ponsel pintarnya yang terus menerus mengeluarkan cahaya, dengan satu tangan, sementara tangan yang satunya masih mengendalikan setir kemudi.
“Yang manapun, tidak…” Suaraku yang sudah bergulir perlahan terputus dengan suara yang terkesan menekan,
“Tapi bukankah seharusnya saya yang terlebih dahulu diantar, sesuai dengan sistem GPS?” Pria itu segera memotong percakapan.
Aku hanya bungkam, tidak mau bicara lebih lanjut. Toh aku memang sedang tidak terburu-buru, jadi aku rasa tidak ada yang perlu dibela, sama sekali.
“Ya, mungkin memang bapak ini terlebih dahulu, saya tidak masalah dengan yang manapun.” Aku berujar dengan malas. Dan berikutnya, keheningan menyelimuti kendaraan itu, mobil yang sama-sama sedang kami tumpangi, membelah hujan.
Demi tidak menerima notifikasi dari pria yang terus menghantuiku dalam wujud pesan SNS, beberapa waktu terakhir aku sengaja menenggelamkan diri dalam sebuah novel romansa negeri Taiwan, entahlah, mungkin untuk menghibur rasa sedih yang meliputi diriku beberapa saat ini. Aku terus membaca, membaca, dan membaca, sampai di satu titik, kepalaku yang selalu dibanjiri ledakan pemikiran, memikirkan sesuatu.
Dalam sebuah mobil hitam, di tengah-tengah kriminalitas tingkat tinggi yang beredar di masyarakat, di bawah guyuran hujan yang mendorong orang untuk hanya memikirkan dirinya sendiri, di sinilah, dalam satu mobil yang sama, tiga orang yang tidak pernah saling mengenal sama sekali berjalan dalam satu kendaraan yang sama, membelah jalan kota Jakarta, entah ke mana, tanpa tujuan runut, hanya punya satu kepercayaan: sistem GPS.
Dan seketika, novel dalam genggamanku sama sekali tidak terasa menarik lagi. Aku menenggelamkan diri dalam pemikiranku sendiri, sesekali melirik keluar jendela, sesekali mengamati dua orang di bagian depan kendaraan yang kaku, tidak bersuara satu sama lain.
Pada dasarnya, aku amat benci keheningan. Bila aku sedang penuh semangat (yang biasanya tidak pernah habis) dan energi, aku akan menemukan topik pembicaraan (bahkan yang paling absurd sekalipun), demi menghidupkan suasana. Tetapi kali ini, setelah suasana hati yang tadi, dan dorongan insting liarku, mengamati dua orang di depan terasa lebih menarik, daripada mengajak mereka berbicara.
“Sepertinya kita salah jalan.” Suara pria itu terdengar begitu menusuk dan mengintimidasi. Ups, sepertinya aku sudah tenggelam dalam pikiranku terlalu lama.
Sang pengemudi hanya menggaruk kepalanya dengan bingung, “Tetapi, berdasarkan GPS, ini rute yang benar.”
“Tidak! Kita berada di jalan yang salah, kita terus berputar-putar di tempat yang sama, bahkan melalui jalan yang lebih macet.” Aku mengamati keduanya dalam diam. Pria itu diam-diam masih melirikku dengan tajam, sekilas.
“Ya sudah, biarkan saya yang pandu jalan.” Suaranya terdengar amat menusuk.
Baik aku, maupun sang pengemudi wanita tidak berkutik, tidak berbicara sama sekali. Dengan suara berat, ia meminta kendaraan dihentikan sesaat supaya ia bisa menggunakan sistem GPS andalannya sendiri. Meski duduk persis di belakang sang pengemudi wanita sampai aku tidak bisa melihat wajahnya, aku berani taruhan, saat ini, ia tengah ketakutan. Aku dan pengemudi wanita itu diam-diam bertukar pandang dari kaca tengah, saling memberi kode untuk tidak banyak bicara.
Maka, itulah yang terjadi. 20 menit kami membelah jalanan Jakarta dengan berbekal panduan dari seorang pria yang terlihat begitu yakin, ‘bersenjatakan’ smart phone di tangan (serius, dia terlihat seperti seorang ksatria dengan pedang). Jalan-jalan yang dilalui amat asing bagiku, beraneka gang sempit yang entah apa namanya. Sesekali anak kecil tiba-tiba menghadang di tengah jalan untuk bermain bola, atau tukang dagangan melintas di depan kami, bahkan jemuran jatuh di kap depan mobil! Yah, demi nyawa selamat, aku dan sang pengemudi hanya diam saja, bungkam.
25 menit sudah berlalu, dan ajaibnya, di akhir waktu itu, kami kembali ke tempat pertama, tempat kami berhenti tadi, saat pria itu mengintimidasi mobil agar berhenti supaya ia dapat mengatur GPS nya sendiri. Dalam hati aku tertawa tergelak. Terang langit juga mulai pergi, mungkin bosan melihat kami berputar-putar seperti tikus dalam kandang. Pria itu terdiam, namun dari balik bewok tebalnya itu, aku yakin ia menahan malu.
“Sialan, pasti karena jalanan macet ini. Sialan, betul-betul sialan. Aku sudah ketinggalan jam siaran.” Ia bergumam terus seperti kaset rusak, sangat kentara menahan ledakan suara, mungkin juga menahan malu.
Tidak mau memperkeruh suasana, aku hanya berusaha bergumam ringan sembari berdehem, “Ehm, sepertinya sudah Maghrib, jalanan sedikit lowong. Mungkin, kita bisa kembali menggunakan GPS yang pertama.” Dan kali ini, suaraku tidak dibantah.
Sang pengemudi wanita, yang sama sekali tidak marah (ya, aneh sekali memang), menyalakan kembali GPS nya dengan pasrah.
“Aku turut bersedih kau batal siaran.” Suaraku bergumam rendah, tidak mau menciptakan keributan (juga saking tidak tahu harus berbicara apa lagi)
Lelaki itu hanya terdiam, termenung. Dari sudut mataku, bisa kurasakan genggaman pada tas di pangkuannya sedikit mengendur. Sorot mata yang tadi terlihat mengintimidasi itu, perlahan terlihat melembut, tetapi seperti kehilangan sesuatu.
“Ya, tak apa.” Gumamnya singkat.
“Siaran apa sih? Siaran demo besar-besaran tempo hari itu ya?” Sang pengemudi wanita berusaha berbicara dengan ceria, mungkin dipikirnya untuk dapat menghidupkan kembali suasana.
“Tidak. Siaran langsung pernikahan.”
“Aku tidak tahu akan ada artis yang menikah dalam waktu dekat.” Aku berusaha berujar jenaka, mencoba menghapus kesedihan ganjil yang tergambar di wajahnya.
“Bukan, hanya siaran langsung pernikahan pemilik stasiun televisi dengan, hmm, rekan kerjaku.” Dia terlihat menghela napas berat, “Dia, eh, tunggu, di depan kita belok kiri saja. Kali ini aku tahu jalan.”
Dan sepuluh menit berikutnya, ia mencoba mengarahkan jalan ke sana dan kemari dengan lihai. Bahkan, GPS utama, sumber awal kepercayaan kami lah yang mengikuti gerak kami sekarang (bukan sebaliknya), karena, lebih cepat.
“Wuah. Kau begitu semangat untuk minta ditraktir bos mu di hari bahagia dirinya ya, sampai-sampai tiba-tiba, kau semangat dan ingatan segarmu bangkit kembali.” Sang pengemudi wanita berujar sampai tertawa. “Wuah, tapi maaf, kita sedikit kena macet perempatan jalan.” Sambungnya ketika mobil tiba-tiba terhadang puluhan mobil yang ngerem, akibat perempatan jalan.
Lelaki itu bertambah murung, samar-samar suaranya bergumam, “Menurut kalian apakah Tuhan itu ada?” Nada suaranya terdengar begitu bersungguh-sungguh.
“Tentu saja. Kalau tidak, mana mungkin demo besar-besaran tempo hari bisa terjadi!”Sang pengemudi membalas dengan cepat sambil tertawa lepas.
Aku hanya duduk diam, ikut tertawa tipis, tapi tidak banyak bicara. Bagiku mengamati keduanya saat ini terasa lebih penting dan mengasyikkan.
“Salah. Tuhan tidak ada. Kalau pun ada, GPS lebih hebat. GPS menghantarkan kita dengan selamat sampai tujuan, tetapi Tuhan membawa kita pada orang-orang yang bukannya menyelamatkan kita, malah semakin membuat kita tersesat.” Kali ini, suaranya terdengar amat sedih. “Dan GPS tidak akan membuatmu merasa kehilangan, atau merebut kekasihmu, sebaliknya malah akan membahagiakanmu karena menibakanmu pada tujuan.” Demi langit! Aku bisa melihat matanya berkaca-kaca.
“Sudah, aku turun di sini saja.” Suaranya terdengar kasar.
“Tetapi, pembayarannya…” Pengemudi wanita itu berujar panik.
“Aku bayar penuh. Jangan banyak bicara. Aku mau pulang saja.”
Pengemudi wanita yang sudah kehabisan akal menjawab akhirnya hanya menyebutkan sejumlah angka yang tertera pada sistem ponselnya, membiarkan lelaki itu membayar, dan kemudian pergi tanpa meminta kembalian, ya tentu sih, dengan bantingan pintu yang keras.
“Apakah aku salah bicara?” Tanya pengemudi wanita itu sembari melirikku di kursi belakang, dari kaca tengah.
“Hmm… Tidak juga. Mungkin Ia sedang patah hati dan terpuruk.” Jawabku dengan sedikit ragu, membuka jalan pada zona keheningan berikutnya.
“Tapi nona,” suara itu terdengar jenaka, setelah keheningan beberapa saat, “bagiku Tuhan itu memang benar-benar ada. Setelah diselingkuhi oleh suami sendiri, ditinggal mati dua orang putri, ditinggal kawin lari oleh seorang putra demi istrinya yang kurang ajar, setelah ditipu uang habis-habisan oleh sahabatku sendiri sampai tinggal menyisakanku dengan selembar baju di badan, meski dianggap bodoh oleh seluruh kenalanku, aku masih merasakan Tuhan itu ada. Buktinya, Tuhan mengizinkan sistem GPS dan ponselku sekarang menyala, tidak habis baterai, jadi, aku bisa mencari uang untuk makan nanti malam.”
Dan berikutnya tawa yang teramat tulus terdengar memenuhi mobil kami yang masih tertahan lampu merah perempatan jalan, gendang telingaku, hatiku, dan seluruh dunia dalam kepalaku. Berikutnya sang pengemudi yang polos itu masih bercerita tentang berbagai macam hal, mulai dari hidupnya sejak SD sampai sekarang.
Aku hanya duduk di sana, mendengarkan dengan tenang, tanpa menyadari makna kepercayaan sebenarnya sesederhana itu, memaknai kehadiran Tuhan hanya perlu se polos itu, tetapi boleh jadi, aku dan manusia lainnya lah yang membuatnya se rumit itu.
- — #UR1 – GPS dan Tuhan : Tamat —
