Lewat tengah malam itu hanyalah satu lagi malam dingin lainnya di suatu bar baru di pusat kota. Pria itu, pria asing yang masih muda dan terbiasa tampil necis, namun kali ini datang dengan kemeja berantakan berhiaskan lipstik dan bau parfum perempuan.
“Give me the local beer.” Suaranya terdengar serak dan malas, sesuai dengan suasana hatinya yang tidak terlalu rapi sebagaimana seharusnya pakaiannya di waktu siang.
Sang bartender di sebrang sana tidak bicara, cukup mengambilkan apa yang diminta kemudian menyajikannya, tanpa bersuara.
“Can I smoke here?” Suaranya berujar lagi.
Di sudut lainnya, sang bartender hanya melongo, entah tidak bisa mendengarkan apa yang dibicarakan pria itu, atau memang tidak mengerti bahasanya. Pria itu lantas menarik napas panjang, cukup bingung mengapa orang yang sama bisa mengantar minuman yang dia minta tetapi tak mengerti ucapan lainnya. Kemudian, ia berujar lagi,
“Boleh saya merokok?”
Bartender perempuan itu lagi-lagi hanya melongo, diam, seperti anak TK yang baru pertama kali melihat komputer tablet.
“Mohon maaf, dia masih baru, ada yang bisa saya bantu?”
Ahh, cukup lega rasa di hatinya ketika seseorang lekas muncul dari dalam, menggeser-kalau tidak mau dibilang menyikut- si bartender sebelumnya yang hanya bisa melongo tanpa banyak bicara.
“Apa saya boleh merokok?” Kembali ia berujar dengan patah-patah.
“Oooh, tidak-tidak. Anda tidak bisa merokok di dalam ruangan. Tetapi anda bisa ke rooftop dan merokok di sana.” Suaranya mengalun dengan keras namun perlahan, bahkan cenderung mengeja satu demi satu.
Dalam hati, si pria itu mengumpat. ‘Bar macam apa ini? Tidak bisa merokok, bartender yang tidak lancar berbahasa Inggris.’
“Baiklah, saya mengerti. Saya permisi.”
Dengan langkah diseret, pria itu menuju rooftop, sembari memberikan notifikasi lewat ponsel pintarnya,
‘Aku di rooftop. I need to smoke.’
Tidak sampai 3 detik, balasan segera tiba.
‘Oke. I’m almost there. Will be there in 15 mins.’
Sebuah pesan yang hanya dilihat sambil lewat, diiringi helaan napas panjang. Lewat tengah malam di suatu hari di tengah minggu kerja produktif yang dingin tentu saja akan membuat rooftop mana pun cenderung sepi. Suara musik tidak sekeras biasanya. Pria itu membiarkan ponselnya meringkuk, di sisi meja yang lainnya, diselimuti udara dingin malam yang menyerang puncak bar di tengah-tengah ibu kota.
—————————————————————- xxxx ———————————————–
Wanita itu tidak banyak berubah, kecuali rambut nya yang semakin cepak, dan pipinya yang kian tirus.
“Hey, been long?”
“Not really. Can we just go straight to the point, please? Ariana is waiting on my bed.”
Wanita itu tertawa, dengan seringai yang tidak begitu familiar di wajah siapapun, namun amat dikenali nya, pria itu, Aiden.
“Wah wah, Aiden sang penakluk, seseorang yang tidak punya waktu begitu cepat mengiyakan ajakanku, haruskah hamba merasa tersentuh, oh tuan yang agung?” Masih seringai sarkatik sama, sama seperti sebagaimana terakhir kali Aiden menemuinya, seringai yang sama dari perempuan yang lugu, tetapi cerdas. Sekarang tinggal cerdas saja, tanpa lugu yang mampu menjelaskan wanita itu, wanita dengan rambut cepak, kaca mata, dan berhiaskan make up seadanya.
“Aku tidak punya banyak waktu, Bintang. Apa yang kau mau?”
Perempuan itu menggoyangkan gelas berisi bir yang masih berbusa itu dengan gerakan yang sensual, namun terasa memuakkan bagi Aiden.
“Aku dapat kabar atas ulah baru seseorang.”
“Hanya untuk itu kau datang? Kurasa urusan pribadiku tidak perlu dibicarakan se subuh ini kan?”
Yang terjadi berikutnya adalah sesuatu yang Aiden benci sejak selamanya, seringai itu, seringai kecil di sudut kiri bibirnya. Bila seringai itu muncul, maka 80% kemungkinannya adalah, ia akan kalah, telak.
“Ahh, urusan pribadi mu bukan urusanku, begitu? Tapi,” Bintang menarik lengan bajunya, berpura-pura melihat jam tangannya dengan ekspresi wajah mengolok-olok, “jam ku berkata sudah mendekati jam 2 pagi. Cepat atau lambat, kebenaran itu akan kau ungkap sendiri, tanpa harus aku memintanya.” Suaranya terdengar halus, tetapi menusuk, kata demi kata nya.
“Aku lelah. Aku ingin tidur, kalau pembicaraan ini tidak penting, maka aku ingin pulang.”
“Kupikir juga begitu, Aiden sayang, bahwa pembicaraan kita tidak penting. Sampai aku harus membaca koran tadi pagi dan menemukan seorang wanita meninggal dengan tidak wajar, menggantung dirinya sendiri di apartemennya.”
“Bunuh diri sudah menjadi bagian dari tren sekarang, kenapa kita harus membicarakannya malam,”
“… dan, aku terkejut bahwa perempuan ini menyertakan surat patah hatinya akibat putus cinta beserta fotonya di ranjang berdua dengan seseorang yang tak jelas, seorang pria yang dia beri inisial A.S, yang juga berasal dari negara A.S. Kebetulan yang menarik, bukan?”
Aiden terdiam. Kegundahan itu kembali memenuhi hatinya.
‘Sialan orang Indonesia dengan berita tidak pentingnya yang kian mudah diakses.’
“Akui saja, Aiden sayang. Sekarang kau seperti tikus dalam kandang percobaan, ketakutan dan dipenuhi ketidakpastian, ya kan?”
“Lalu memangnya kenapa kalau ada seseorang yang bunuh diri, apa hubungannya denganku, bisa saja,”
“Apa kau yakin bahwa ini benar-benar tidak ada hubungannya denganmu, Aiden Starling?” Dan perempuan itu lagi-lagi membuat Aiden terdiam membisu, tidak lagi sanggup berujar.
Di sebrang sana, Bintang berhenti memunculkan wajah menyebalkan-yang-khas-menurut-Aiden dan berubah menjadi serius. Perlahan, diteguknya bir yang mulai hilang busanya itu.
“Akui saja Aiden,” katanya lagi setelah beberapa hembusan angin berlalu, “kau butuh aku saat ini. Arista mu itu,”
“Ariana,”
“Ah ya, pokoknya perempuanmu lah, perempuan yang tidak lebih dari pemberimu rasa hangat di tempat tidur namun mencekokimu dengan ketakutan-ketakutan lainnya.”
“Lalu kau mau apa? Menghakimiku?”
“Kita sama-sama tahu betul bahwa itu tidak pernah terjadi, malah sebaliknya.”
“Oke, Lintang meninggal, bunuh diri. Puas kau?” Pria itu berujar sambil mengetuk meja, setengah menggebrak, berusaha amat keras mengendalikan emosinya.
“Kenapa? Apa yang kau perbuat?”
“Kau dan aku sama-sama tahu alasannya, nona serba tahu.” Kali ini Aiden membalas dengan nada mengolok yang jauh lebih menyebalkan.
“Oh ya? Aku ini manusia dengan IQ buruk, aku tidak suka berasumsi karena asumsiku selalu salah.”
“Seakan pertemuan malam ini bukan didasarkan pada asumsi mu”
“Tetapi tidak ada jaminan bahwa itu benar kan, sampai akhirnya sekarang kau sendiri yang bicara?”
Aiden menarik napas panjang, dan kasar, melirik rokok di sudut meja lainnya, sedikit tergoda untuk akhirnya merokok demi mengalihkan dari tekanan rasa yang amat kuat di dalam dirinya sendiri.
“Ohh, I have no problem with any kind of human type, but I have a problem with smoker.” Balas gadis itu demi menangkap gerakan mata Aiden yang melirik benda di sudut meja lainnya.
“… Said someone who used to believe she against alcohol and now holding beer in her hands,” Aiden membalas, jauh lebih mengolok.
“Karena cuma dengan ini, kita bisa bicara lebih lama, kan?” Giliran Bintang yang menarik napas, amat perlahan, berusaha menenangkan suaranya sendiri. “Siapa itu Lintang?”
“Anak petugas imigrasi,” Aiden membalas dengan datar.
“Kau memanfaatkannya? Dalam bentuk apa?”
“Mengurus perpanjangan izin tinggalku, lebih murah dengan cara seperti itu.”
“Terus?”
“Kubuat dia senang dengan berkencan selama sekitar 5 bulan,”
“Termasuk menghangatkan di kasur?”
“Perlukah itu kujawab?”
Bintang hanya meringis di sudut bibirnya.
“Kau dapatkan kebutuhanmu?”
“Ya, bahkan jauh lebih cepat dan lebih murah daripada yang aku bayangkan.”
“Dan kau putuskan dia?”
“Tidak juga.”
“Lantas kenapa dia bunuh diri?”
“Dia menemukanku sedang bercengkrama dengan Ariana di kosanku.”
“Ooh, tipikal kebrengsekanmu lah ya.” Bintang kembali berujar dengan sindiran yang tajam.
“Kau tau kan bahwa di negara ini, hal-hal yang kau lakukan itu bukan suatu hal yang wajar? Kau tidak bisa mencari pajangan di sisi tubuhmu atau penghangat kasur kemudian meninggalkannya begitu saja.” Suara Bintang menyambung sekali lagi.
“Oh ya, kalau begitu kenapa bisa denganmu?”
Demi mendengar kata-kata itu, Bintang mencengkram gelas bir nya dengan kuat.
“Dengamu. Mu, siapa maksudmu?” Bintang berujar dengan perlahan, namun terdengar berhati-hati.
“Oh, tentu saja dengan seorang perempuan idealis bernama Bintang, anak jurusan kedokteran dengan mimpi membangun rumah produksi, kemudian bertemu dengan hidung belang dari Broadway , bernama Aiden Starling, kemudian mulai minum bahkan nonton film porno. Aku kaget kau tidak kunjung menghisap sejak awal bertemuku 7 tahun lalu, jangankan menghisap, merokok saja tidak.”
“Aku tidak ingat bahwa pembicaraan ini berbicara tentangku.”
“Terus bicara tentang siapa, seorang pria brengsek bernama Aiden? Pria seperti ku sudah terlalu banyak, tidak menarik lagi untuk diceritakan, mulai dari film pemenang academy awards sampai sinetron kacangan negaramu, triliunan kali sudah diceritakan pria brengsek yang menganggap perempuan sebagai barang, ya kan? Oooh, aku kenal sekali wajahmu itu, wajah yang sudah mulai gusar, kan? Apa aku terdengar seperti seorang anti feminis sekarang?
Bintang hanya menarik napas lebih dalam, menyenderkan dirinya ke bantal sofa yang berpasangan dengan sebuah meja, di sudut bagian rooftop bar itu.
“Aiden, you need me, to be at least someone who listens to you. That’s why I’m here.”
“Oh ya? Kau begitu yakin aku butuh bantuanmu? Kalau begitu kenapa kau tidak pernah mau tinggal bersamaku supaya kau bisa dengan bebas menjadi sumber kebutuhanku? Hah?! Jawab!” Kali ini suara pria itu kian memuncak, diiringi sebuah gebrakan meja yang amat keras.
Bintang menyeruput sisa-sisa bir di dasar gelas, bir yang berhiaskan busa – busa samar.
“I know you’re pathetic, but I don’t expect your pathetic side still remains since the last time another girl, your other bed warmer, experience this heartbroken case, a years ago, the last time we met.”
Keduanya tertawa, satu terdengar seakan menyindir, satunya dengan getiran yang amat nyata.
“We have discussed to much time already, and I don’t think you have improved. I don’t see the point of talking again to you then. All I want to say, just come to her parents’ house, and apologize.”
“Untuk apa? Supaya aku diperas atau dicincang habis?”
“Siapa suruh berbuat sembarangan?”
“Siapa suruh kau memutuskan tidak mau serius denganku?” Aiden kembali membalas dengan sengit.
“Itu, bukan urusanmu, dan bukan bahasan diskusi kita, kan?”
“Tentu saja, brengsek! Kita berdua sama-sama tahu alasan semua ini, alasan penghias tempat tidurku yang terus berganti, kita sama-sama tahu! Jangan berpura-pura bodoh, bajingan!”
Bintang tertawa, kali ini benar-benar nyaring, entah berarti apa.
“Obiviously, you grew even much more pathetic than the last time, I thought. If only it wasn’t , I might have given you a chance.”
Gadis itu menyeriangi tipis, lantas berdiri, meletakkan gelas bir nya dan membawa tas serta jas nya sementara Aiden hanya tertegun di seberangnya.
“My drink is on you. Jangan menyetir dalam keadaan mabuk, aku tidak mau menjadi penjaminmu lagi like the last time we met. Aku harap kau bisa menghentikan semua kesia-siaan ini.”
Perlahan Bintang melangkah, menjauh, suara hak sepatunya mulai menggema dengan irama di atas lantai berbahan kayu yang kian membeku.
“Bitch, I have a question, something I have never dared to ask.”
Bintang berhenti sejenak, kemudian membalikkan tubuhnya.
“Consider yourself lucky not to be blue and still got my attention after calling me bitch. Shoot. What is it?” Bintang tersenyum tipis.
“Why do you do this?”
Demi mendengarnya, Bintang mengusap rambut di kepalanya perlahan, entah untuk apa. Dengan senyum dan wajah yang sama sekali tidak dipahami Aiden, sesuatu yang sama sekali baru selama tujuh tahun itu, ia hanya berujar,
“Perlukah alasan?”
Bekasi
19 Maret 2017
