“Pernah bertanya – tanya nggak sih, kenapa ‘huruf H’ sering terhapus dari dialog – dialog?”
Aku masih mengaduk – aduk kimchi yang aku makan sambil tersenyum tipis melirik gadis yang selalu bersemangat itu, “O ya? Contohnya?”
“‘Ati – ati’ bukannya ‘Hati – Hati’? ‘Alus’ bukannya ‘Halus’?”
Ia terlihat amat bangga saat menyampaikannya sementara ia menyeruput es kopinya lagi. Aku terenyuh. Aku selalu tau bahwa gadis itu tidak biasa, dan tidak akan pernah menjadi biasa.
Ada suatu hal yang tidak biasa yang kurasakan. Tetapi aku tidak akan pernah mengakuinya.
Nama gadis itu Maria Stark Rogers. Nama yang dipilih secara asal-asalan oleh keluarganya di rumah sakit, yang tanpa sengaja menatap tumpukan komik tua di ruang tunggu. Bukan, bukan orang tuanya. Hanya keluarganya, yang entah siapa. Ayahnya meninggal di medan perang. Ibunya meninggal saat melahirkannya.
Dan keluarganya tinggal sampai ia berusia 18, sampai ia cukup dewasa untuk menandatangai surat pembagian harta.
Sejak saat itu, ia tinggal sendiri. Tetapi tiada yang rusak dari dirinya. Ia cerdas, pintar, dan berani. Buktinya, ia berhasil masuk ke dalam forum bisnis jauh di negara asing itu bersamaku, kami berdua sebagai peserta termuda. Buktinya ia dengan berani menjemputku yang hilang di tengah jalan, sendirian, hanya karena aku tidak kunjung kembali ke tempat malam itu.
Dan buktinya, ia berani untuk terus mendekatiku, tidak perduli meski aku berkali – kali enggan menerima tindakannya.
Maria bukan seseorang yang biasa. Maka kau harus bersiap akan apa yang meluncur keluar dari mulutnya berikutnya. Seperti,
“Apakah kau sedang berkencan dengan seorang perempuan?”
Jus alpukat yang sedang aku teguk nyaris muncrat keluar dari hidung dan mulutku.
“Ahh, ya. Ada seorang perempuan di gerejaku yang menarik perhatianku.”
“Ohh… Bagaimana proses pendekatan kalian?”
“Sepertinya baik, kurasa.”
Maria hanya tersenyum dan menjawab beberapa hal yang tidak terlalu kuperhatikan lagi. Karena yang lebih penting adalah, perempuan yang kusebutkan itu kan tidak pernah ada. Maria tidak perlu tahu itu. Tidak sebelum ia menyatakan dengan jelas maksud dan tujuannya bersamaku selama ini.
Kupikir tidak ada yang salah dengan itu, dan ternyata tidak juga.
Tidak setelah Maria tiba – tiba menyatakan ia mencintaiku, saat aku tidak pernah melihatnya seperti itu. Kemudian ia hilang, tanpa kuketahui ke mana. Atau mungkin sejujurnya, tanpa pernah kuperdulikan ke mana, bertahun – tahun jauh setelah itu.
Kupikir semua sudah selesai.
Kenyataannya tidak.
Karena, Maria tidak pernah berhenti mencintaiku.
Maria memang tidak pernah menyatakan ia mencintaiku secara langsung. Ia juga tidak pernah menyebutkan apapun soal pria idamannya. Ia hanya seakan merasa nyaman terus menghabiskan waktu bersamaku, entah itu lewat pesan singkat, entah itu soal kenyataan.
Maria tidak pernah menunjukkan gelagat perempuan normal ketika ia jatuh cinta, entah itu minta dilayani ke sana kemari atau bertemu setiap waktu.
Maria tidak pernah mengeluhkan soal pesan-pesannya yang nyaris tidak pernah kubalas.
Maria tidak pernah menyinggung atau marah soal perempuan itu, perempuan yang tidak nyata itu.
Maria selalu menjadi Maria.
Sementara aku selalu menjadi aku, Hugo.
Aku yang tidak pernah bisa melihat bahwa apapun yang Maria lakukan berangkat jauh dari apa yang biasa membuatnya nyaman.
Maria yang berusaha keras berbasa – basi untuk dapat bisa masuk ke dalam duniaku.
Maria yang memberanikan diri bersua dengan orang asing yang belum kian lama ia kenal.
Maria yang berani menyatakan kemarahannya atas sesuatu kebodohan yang kulakukan sendiri (baru kuakui di kemudian hari).
Maria tidak akan pernah berhenti berjuang untuk hal yang ia cintai, atau bahkan terpikir untuk itu walaupun sebagai gantinya, ia akan kehilangan banyak hal termasuk dirinya sendiri.
Dan sialnya, seperti jutaan orang tolol lainnya, aku baru mengetahui ketika narasi itu sudah memasuki babak akhir.
Dalam kasusku, lewat sebuah surat kusut berlumuran darah.
“……
Aku tidak pernah diperjuangkan, Hugo. Aku nyaris tidak tahu bagaimana rasanya itu diperjuangkan, atau dicintai.
Maka aku selalu melakukan apa yang menurut logikaku dan hatiku benar untuk dilakukan. Sempat aku mengumpat, tidak apa kalau aku tidak cukup untuk keluargaku, atau teman-temanku, tetapi setidaknya untukmu aku cukup.
Dan pada akhirnya, aku mengerti, aku mencintaimu, dan itu cukup. Aku tidak bisa menyatakannya secara langsung, karena aku menghargai keputusanmu, dan keputusan alam semesta yang mempertemukanmu dengan orang yang selalu cukup untukmu, orang – orang yang bukan aku.
Aku merayakan tiadanya ‘huruf H’ dalam ceritaku bersama dengan kebahagiaanmu saat ini.
Aku mencintaimu, Hugo. Maka aku tidak akan pernah ragu untuk melepaskanmu mendapatkan kebahagiaan dan kecukupan yang tidak akan pernah kau dapatkan dari aku”
Aku mengetahui itu, semua ketololan dan kebodohan itu, lewat surat yang kubaca sambil mengantarkan abu seseorang ke lautan lepas, dibalutkan tuxedo putih hadiah dari Maria untuk pernikahanku (meskipun kami sudah amat lama tidak bertemu) , tidak perduli kepada statusku yang masih lajang.
————————————————————- Huruf H ———————————————————–
Cerita ini merupakan fiksi belaka yang dibuat untuk keperluan hiburan. Kesamaan antara tokoh atau cerita benar – benar terjadi tanpa unsur kesengajaan.
VAE, L.S
07.14.18
