Sebuah tulisan yang Dibuat untuk @bincangdikota
Sumber tontonan : https://www.youtube.com/watch?v=B6uuIHpFkuo
Purl mungkin cuma sebuah bola fluffy yang sedang berjuang menemukan tempatnya di dunia kerja. Tapi, bagi saya, tidak perlu IQ tinggi untuk memahami bahwa purl merupakan representasi perempuan di lingkungan kerja.
Setelah membandingkan berbagai data, sebenarnya tidak terlalu jelas apakah Indonesia benar-benar memiliki gender gap di lingkungan kerja. Namun, bisa jadi saya membawa bias dalam pandangan tersebut. Perlu dicatat bahwa saya menulis dari perspektif seorang pekerja yang tinggal di urban, kelas ekonomi B, dan tidak punya tanggungan finansial terhadap anggota keluarga. Saya pun masih memutuskan untuk tidak berkeluarga juga masih tinggal di rumah orang tua. Jadi, bisa jadi gender gap terjadi namun saya luput untuk melihatnya, atau itu tidak pernah terjadi sama sekali.
Apapun itu, saya ingin menulis sebuah refleksi dari cerita saya sendiri, soal bekerja sebagai perempuan. Ada empat hal yang paling menarik perhatian saya; soal perempuan yang sulit untuk fit in ke dalam lingkup kerja, soal perempuan yang “harus berpura-pura jadi laki-laki,” soal perempuan berdaya harus memperdaya, dan terakhir, soal perempuan membawa perubahan.
Perempuan dan Sulitnya Fitting In
Saya sudah tahu sejak lama bahwa saya tergolong manusia aneh, sehingga sulit sekali untuk berkomunikasi dengan orang lain. Banyak yang bilang ini karena level intelegensi saya yang cenderung lebih tinggi dari kebanyakan orang. Nyatanya, saya tidak merasa lebih cerdas. Saya hanya lebih suka membaca dibandingkan kebanyakan orang. Terakhir, saya tergolong orang yang amat berani mengemukakan pendapat, orang yang tidak mudah untuk ‘manut saja dulu.’ Kombinasi dari ketiganya seringkali membuat posisi saya sebagai seorang wanita cis terjepit di dunia kerja.
Agaknya, hal di atas terkesan mengada-ada atau mencari-cari alasan. Kenyataannya, memang butuh bertahun-tahun bagi saya untuk bisa benar-benar memeluk diri saya sebagai saya. Orang tua saya termasuk orang-orang yang konservatif nan agamis. Bagi mereka, perempuan yang “baik” adalah mereka yang pasif dan cenderung lemah lembut, membiarkan apapun yang orang lain katakan. Mungkin kurang lebih seperti Bunda Maria. Ini membuat kemampuan saya untuk menyatakan pendapat butuh banyak digodok.
Kesulitan untuk fitting in memang tidak terlalu saya alami di dunia kerja. Namun, itu semua saya lalui ketika saya di universitas. Pada saat itu, karena tidak dibiasakan untuk mengemukakan pendapat, saya seperti terlatih untuk memendam segala hal “tidak tepat,” termasuk bila itu melukai diri saya. Pada saat itu, sistem adaptabilitas saya menemukan suatu pula, “Laki-laki didengarkan loh pendapatnya.” Maka, saat itu otak saya menerjemahkannya sebagai, “Oh, saya harus jadi seperti itu. Seperti laki-laki.”
Mungkin, disadari ataupun tidak, dari sanalah akar mula pendekatan saya di dunia profesional, “Kalau mau jadi sesuatu yang berarti, jadilah laki-laki.”
Itulah kenapa Purl mengubah fisiknya menjadi seperti laki-laki supaya ia bisa “menyesuaikan diri’ di kantor B.RO Company.
“Menjadi” Laki-Laki
Bisa dibilang perkembangan keterlibatan perempuan dalam dunia profesional adalah hal baru. Belum sampai lima puluh tahun sejak dunia menerima dengan terbuka pemahaman bahwa perempuan adalah partner setara laki-laki. Ketika bicara Indonesia, hal tersebut bahkan lebih rumit lagi. Makanya, wajah dunia profesional lintas sektor di dunia ini, terutama di Indonesia, sangat sering didominasi oleh laki-laki.
Sejak lama, peran perempuan lebih sering dibatasi di sektor-sektor tertentu. Itu pun, hanya perempuan dalam jumlah tertentu yang bisa mengejar. Privilej berperan besar. Misalnya perempuan yang bisa masuk ke dunia kerja adalah mereka yang memiliki pendidikan tinggi dan terbaik. Mereka bisa mencapai hal tersebut karena orang tua mereka mampu menyekolahkan mereka, lantaran kekuatan ekonomi yang mumpuni atau adanya perempuan (atau laki-laki) lain yang menyadari pentingnya pendidikan bagi seorang perempuan.
Akhirnya, jumlah perempuan dalam dunia kerja menjadi terbatas. Mereka yang sudah berada di dalam mau tidak mau harus bisa menyesuaikan masuk ke dalam pergaulan yang secara umum sangat eksklusif berputar di kehidupan laki-laki, seperti candaan seksis, candaan objektifikasi seksual perempuan, atau supremasi laki-laki. Karena kalah jumlah, lama-lama sedikit jumlah perempuan yang terjebak di dalam sana lambat laun turut melakukan pendekatan sosial yang sama. Alasannya kan sederhana: biar bisa diterima.
Hal tersebut digambarkan dengan jelas oleh Purl ketika ia melontarkan bercandaan seksis, “Pakaian ini memang mahal, sayang. Tetapi di apartemenku, harganya diskon 100%.” (Makna lain : dilucuti seluruhnya atau telanjang. Ini mengisyaratkan candaan seksis berupa ajakan berhubungan seksual.)
Siapa yang salah dalam situasi ini? Entahlah.
Sebenarnya, pertanyaan yang lebih bagus seharusnya, “Lantas bagaimana cara mencapai hal yang lebih baik, sekarang?”
Tidak ada yang tahu soal bagaimana cara menjadi “perempuan yang baik.” Perjuangan mencapai kesetaraan pun agaknya akan selalu menjadi perdebatan panjang, terutama di Indonesia yang saya yakin, sampai kapanpun tidak akan menghapus nilai-nilai agama gnostik dari tatanan kehidupan sosialnya. Edukasi memang merupakan opsi. Tetapi, akan selalu ada batasan, kalau kita cuma terus menerus memperdebatkan segala mosi berdasarkan “tetapi.”
Maka mungkin, ketika “Purl” diilustrasikan harus mengubah dirinya menjadi gambaran fisik laki-laki demi bisa “diterima,” saya hanya bisa bilang, “Kenyataannya, memang masih begitu cara bermainnya.”
Menyakitkan? Tentu. Namun, daripada saya berdiam dan marah-marah saja, berkeluh kesah dan patah arah, opsi ini lebih baik saya ambil.
Saya suka bekerja. Saya suka menjadi bagian dari pekerjaan yang bermakna. Hal-hal tersebut menjadikan saya, saya. Kalau memang “menjadi laki-laki” adalah salah satu prasyarat, maka saya akan mengambil itu. Walaupun, saya akan tetap meminta banyak hal sebagai “balasan.”
Ketika kami, perempuan, diminta “menjadi laki-laki,” seharusnya yang lain pun turut merasakan “menjadi perempuan.” Ini berarti sadar bahwa membereskan pekerjaan remeh temeh, seperti contoh membuat kopi BUKANLAH tanggung jawab seorang perempuan. “Tugas domestik yang kecil” di lingkup kantor bukanlah urusan perempuan semata. Pemahaman bahwa mengurus “tugas domestik keluarga masing-masing” bukan hanya tanggung jawab perempuan juga harus diterapkan. Kesetaraan kehidupan domestik harusnya menjadi milik bersama.
Dan sekarang, karena saya telah memiliki pemahaman tersebut, menjadikan diri saya sebagai seorang perempuan berdaya…
Perempuan Berdaya yang Memberikan Daya
Sejak memahami bahwa saya adalah perempuan yang berdaya, dalam setiap yang saya lakukan, seperti ada beban yang saya emban. Saya tau bahwa sejak saat itu dan sampai kapanpun, saya punya tanggung jawab untuk mengangkat dan mendorong perempuan lain.
Di satu titik, ketika Lacy, seorang bola benang (perempuan) baru masuk ke kantor yang sama, ia menemukan fakta bahwa dirinya tidak langsung diterima oleh rekan kerjanya. Purl tiba kepada sebuah titik di mana ia harus memilih, membantu Lacy untuk masuk ke dalam struktur sosial kantor tersebut atau fokus kepada dirinya saja.
Pada akhirnya, Purl memilih. Ia membantu Lacy, dan membawa Lacy masuk ke dalam lingkungan sosial tersebut.
Menjadi seorang perempuan berdaya memang merupakan perjalanan yang amat berat. Seringkali, seorang perempuan harus memperjuangkan titik tersebut nyaris sepenuhnya sendirian. Ketika akhirnya ia mencapai suatu titik di mana ia bisa “mengamankan” posisi, menjadi berdaya, tentunya ada dorongan manusiawi untuk “menikmati situasi tersebut,” dan bertindak “bodo amat” dengan keadaan orang lain.
Nyatanya, banyak perempuan yang sudah berdaya lebih memilih untuk diam saja terhadap perjuangan perempuan lain. Alasannya? Lebih simpel. “Ngapain ngurusin hidup orang lain, kalau hidup sendiri aja sudah sulit.” Terkadang, yang lebih menyakitkan nya lagi, perempuan yang sudah ada di titik “berkuasa” malah menstigmatisasi perempuan lain dengan lebih parah.
Bagi saya sendiri, tindakan serupa kembali lagi ke pilihan hidup masing-masing. Pada akhirnya, tidak semua orang bisa dipaksa untuk memperjuangkan hak-hak orang lain. Segala sesuatu yang dipaksa tidak akan berakhir maksimal.
Namun, akan sangat bermanfaat bila setiap perempuan berdaya mengingat, bahwa selain ia berhutang kepada setiap perempuan lain, bahkan tanpa ia sadari…
…. Memilih untuk memperjuangkan perempuan lain turut…
Menjadikan Lingkungan yang Ramah Perempuan
Tanpa Purl sadari, gestur kecil yang ia lakukan akhirnya membuat sebuah lingkungan kerja yang memperhatikan dan ramah laki-laki dan bola benang (perempuan). Perempuan yang memperdaya perempuan nyatanya selalu menciptakan sekelompok besar perempuan yang juga berdaya.
Purl menjadi pionir di lingkungan kantornya. Seringkali, kita mengomentari soal bagaimana seharusnya setiap kantor bisa menjadi ruang yang ramah seperti demikian.
Walaupun mosi tersebut benar, namun kita lupa bahwa ada sisi lain: Ada Purl dalam setiap kita, perempuan ataupun laki-laki. Namun agaknya, kita selalu lebih suka menunggu ada sosok orang seperti Purl yang bisa datang dan menjadi “pahlawan” dari kehidupan kita.
Kenapa tidak menjadi “pahlawan” bagi diri kita sendiri? Tulisan ini mungkin dimulai sebagai sebuah curhatan atau pelemparan uneg-uneg oleh saya. Saya sendiri pun nyatanya masih jatuh bangun dalam menjalankan peran sebagai seorang perempuan berdaya yang memberikan daya bagi perempuan lain
Namun, menonton “Purl” sekali lagi mengingatkan saya kepada suatu dorongan luhur, “Saya adalah pahlawan dan dorongan yang saya sendiri cari. Hanya ketika saya sudah berdaya barulah saya bisa memperdaya perempuan lain.”
Akhir kata, “Purl” mungkin merupakan sebuah animasi yang bicara persinggungan kecil di kehidupan profesional sehari-hari. Namun, animasi ini terlalu familiar bagi realita lingkungan kerja, terutama bagi perempuan. Maka, saya sangat menyarankan siapapun untuk menonton film ini, kemudian mengaitkan dengan nilai-nilai yang saya sebutkan dalam tulisan ini.
Karena saya adalah agen perubahan yang saya cari. Saya adalah pahlawan dari cerita saya sendiri. Kamu pun begitu.
Jumat, 18 September 2020
Persis di Lingkungan Kerja
