Seandainya

Sebuah karya fiksi oleh L (#byL)

“Kalau aku punya waktu lebih, andai….”

Panggil aku Solo. Rasanya namaku menceritakan sedemikian banyaknya kejujuran soal hidupku: sepanjang ceritaku, aku lebih banyak menghabiskan, memutuskan, menjadikan, dan merayakan detik demi detik di hidupku bersama diriku sendiri

Di hari ulang tahunku yang ke-17

Di hari aku merayakan merit di kuil

Di hari aku masuk kuliah, dan sepanjang momennya

Di hari aku wisuda

Bahkan, di hari aku berusia 25

Nah, aku harus menyampaikannya sebelum siapapun salah paham: Aku tidak pernah merasa kesepian atau kekurangan

Aku bahagia, dan bahkan bukan dalam ironi atau sarkasme

Namun, sebagaimana manusia adanya, ada berjubel andai yang masih kubayangkan, hingga sekarang


Waktu itu, umurku 18 tahun

Aku berkenalan, kemudian menjadi seorang teman dekat, dekat sekali. Berbeda gender

Rasanya, lucu sekali kalau diingat betapa bodohnya aku soal perasaan, “percintaan”

Betapa ranah soal makna rasa dan relasi manusia adalah hal yang sama sekali tidak akan pernah aku mengerti

Karena tanpa kusadari, aku telah mencintainya, bahkan di hari-hari yang masih pagi itu

Tapi aku selalu percaya, lebih tepatnya, meyakinkan diriku sendiri, “Kami berteman”

(Karena toh, aku logika dan formula dalam kepalaku selalu berteriak dengan kencang: “Tidak mungkin hubungan ini akan berlangsung, tidak mungkin ‘ia melihatmu begitu.” Dan karena aku adalah Solo, aku selalu percaya logika dan formulaku, melampaui perasaanku).


Aku tidak suka astrologi, tidak pernah percaya juga

Namun, aku amat percaya kepada psikologi, sains

Dan menurut sains, orang-orang sepertiku, di dalam spektrum gender yang ini, memanglah anomali. Terkutuk

Kami tidak perrnah mengerti perasaan, padahal seharusnya perasaan adalah apa yang paling kami kuasai

Kami menganalisa segala sesuatu, bahkan perasaan kami sendiri, melogikakannya, sampai hilang sudah esensinya

Kami mencintai dalam diam, dalam kata-kata yang tidak bisa disampaikan, karena tersembunyi rapat di balik kritikan dan hinaan tajam

Kami adalah kami. Dan menjadi bagian dari “kami,” aku selalu merasa itu cukup

Bahkan, sampai detik ini, aku yakin bahwa itu cukup

Tetapi, namanyalah juga manusia, selalu ada kata, pikir, harap yang dibalut di bawah kata ‘andai’

Andai, andai, andai


Waktu itu umurku 20 tahun, ketika makan malam itu terjadi

“Kenapa kita tidak pernah membahas siapa yang kau sukai? Tidak bisakah ceritakan kepadaku, seperti aku baru saja melakukannya kepadamu?”

Untuk pertama kalinya, aku bersyukur aku mendalami seni peran sampai ke akar-akarnya. Karena tiba saatnya aku menjalankan peranku, bicara apa yang tidak harus membuatnya merasa berat. Ia mencintai orang lain, orang lain yang bukan aku.

Tentunya, ini bukan tentangku. Bukan, sama sekali bukan. Ini tentang dia, dan ceritanya sendiri. Aku ingin dia bahagia, bahagia, bahagia.

Namun, itulah andai yang paling pertama kutanyakan, hingga lama sekali waktu berselang: Andai aku bilang, “Aku suka padamu,” apakah ceritanya akan berbeda?


Waktu itu umurku 21 tahun, ketika aku datang ke pementasan teater yang ia sutradarai dan tulis ceritanya, sendirian, membelah malam dan hujan

Namun, setelah pentas spektakuler itu berlalu, dengan bunga dalam genggaman tanganku, aku memutuskan untuk pulang

Aku takut ia sama sekali tidak suka aku berada di sana, takut ia merasa aku membuntutinya kemana-mana (takut ia merasa aku terobsesi padanya), takut terlihat terlalu banyak berusaha, takut terlihat murah

Takut orang yang disukainya ada juga di sana, menanti dengan sabar. Aku takut akan perasaanku sendiri, patah hatiku sendiri, ketika melihat mata bahagianya menatap orang lain.

Maka aku pulang, bunga kubuang, kusimpan malam itu dalam kenang

Di sanalah andai kedua yang sering ku-dialog-kan: Andai malam itu, aku hampiri dia di sisi panggung, memeluknya, dan menyampaikan betapa besar cinta yang membuncah dalam relungku, akan seperti apa ceritanya?


Waktu itu, umurku 21.5 tahun, dan aku datang ke hari wisudanya

Tapi, aku tidak ingin memberitahunya sejak awal. Aku tidak ingin ia merasa aku terlalu masuk dalam ruang pribadi miliknya.

Tapi aku menunggunya, menunggunya, menunggunya

Sampai akhirnya aku pulang, lari, karena aku tidak menemukannya di tengah lautan manusia

Di sanalah andai ketiga masih tertanam kokoh di dalam kepalaku: Andai aku berusaha lebih keras, apakah sesuatu akan terjadi, di antara kita, maksudnya?


Waktu itu, umurku 21.5 tahun, ketika aku memberanikan diriku untuk bertanya: “Adakah yang ingin kau sampaikan padaku?”

Untuk pertama kalinya, aku berandai dari sisi lainnya, Andai aku tidak mengatakannya, apakah aku tidak perlu merasakan keputusasaan yang mengekor?

Karena jawabnya sederhana, jujur, namun menyakitkan, “Tidak.”


Waktu itu, umurku 23 tahun, ketika aku dipecat dari pekerjaan pertama

Aku putus asa, putus asa, putus asa

Dalam kekalutanku, aku menelponnya. Aku butuh seseorang yang bisa mendengarkanku, ketakutanku, keraguanku, keputusasaanku

Luput bagiku bahwa kita adalah dua manusia dengan dilema yang sama, cerita yang sama

Maka, seharusnya aku tidak terganggu, ketika ia bicara dengan keras, “Jangan ganggu aku, aku sedang bekerja, sedang punya urusanku sendiri. Dasar manja.”

Namun, di tengah kepahitan itu, untuk pertama kalinya, aku berandai lagi: Andai pun semua ini terjadi seperti dalam novel-novel picisan para penulis remaja, apakah aku akan senang? Apakah aku akhirnya dapat terisi dengan sesuatu yang bahkan hingga sekarang pun tidak bisa kulogikakan, kuanalogikan, kuceritakan ulang; apa yang mereka sebut ‘cinta?’

Karena nyatanya, kita adalah dua orang yang terlalu serupa, tidak mungkin jadi bersama

Tetapi untuk sekali-sekalinya, terus berulang, hingga detik keparat ini,

Hatiku dan otakku bekerja berbenturan, menjepitku di tengah-tengah


Hari ini, bertahun-tahun ketika semua berlalu, ketika cerita itu mengudara kembali lewat pesen singkat (yang tak sengaja aku tinggalkan di media sosial, dasar bodoh memang)

Ketika pesan itu berbalas, sekali lagi, sesuatu dalam relungku bertanya: Andai

Andai saja

Andai jika

Andai ada

Karena meski sudah kuputuskan bahwa segala kisah ini sudah seharusnya dikunci di dalam brankas, jauh di dasar realita kotak pandora, banyak sekali andai yang berlomba menusuk, seperti jutaan sperma yang memborbardir satu ovum

Suatu andai yang lahir karena hal sederhana: Aku sedang di kota, bisakah kita bicara, setelah bertahun lamanya?

Dan kepalaku yang tidak pernah bisa menyusun formula, tidak menjawab, malahan merangkai lebih banyak kode enigma

Andai A, Andai B, Andai C, Andai D

Andai, andai, andai, andai

Karena aku adalah Solo, dan aku harus memutuskan semua ini sendiri, harus

Andai, andai, andai

Valentine 2021, 14 Februari 2021

Di tengah skenario aneh-aneh yang memenuhi kepalaku


Leave a comment