“Tidak” Berarti “TIDAK;” BUKAN “Usaha Lebih Keras”

“Jangan suka nolak kalau dicengin sama laki-laki, siapa yang tau kalau dia jodoh kamu.” Sementara kalau ada laki-laki yang nggak suka dicengin sama perempuan tertentu, dia bisa walk away, kemudian dengan mudahnya dan bilang, “Ya, gue nggak suka, mau gimana dong.” Dan ketidaknyamanan dia dihitung sebagai “suara,” “norma,” sementara suara tidak nyamanya perempuan tidak.

“Dicengin kan biar cepet jadian.” Sementara, si perempuan nggak nyaman. Di sisi lain, kalau laki-laki yang ngalamin itu, dia bisa dengan mudah, tanpa takut distigma sebagai ‘garang’ atau ‘galak,’ bilang, “Apaan sih? Ga jelas lu.”

Seringkali, menurut gue, cara kita mengopresi perempuan itu sangat dekat dan sehari-hari sekali. Dengan kita menganggap, menerjemahkan, suara “tidak suka,” “tidak nyaman,” atau “tidak mau” dari perempuan sebagai “tolong godai aku lebih lanjut,” atau “aku mau, tapi butuh dipaksa,” secara umum, kita sudah menganggap bahwa perempuan tidak berhak untuk menolak, tidak berhak mendapatkan sesuatu yang benar-benar membuatnya nyaman, bukan?

Dan itu, sampah patriarki. Karena, kecenderungannya, ketika laki-laki bilang “tidak,” ya respons sosial, penerjemahan di benak masyarakat kita adalah, “tidak.” (Bukan “Usaha lebih keras.”)

Ketika kita menganggap ketidaknyamanan kaum minoritas (dalam konteks ini, perempuan) adalah sebuah sinyal “minta dipaksa lebih lanjut,” sebenarnya kita sudah merampas hak merdekanya, yakni hak untuk diperlakukan dengan hormat, dengan rasa aman, sesuai pilihannya sendiri. (Dalam konteks ini, ya kalau emang dia nggak suka dicengin sama cowok itu, ya kenapa harus dipaksa? Dia nggak mau.)

Karena, kemudian, ada stigma lain yang sudah meneror di depan pintu, “Perempuan yang berkata ‘tidak’ dengan lantang itu tidak disukai, galak, dan tidak menyenangkan.” Atau, “Perempuan yang dengan jelas menyatakan, ‘saya tidak suka diperlakukan begini,’ dan ‘saya suka diperlakukan begitu,” adalah perempuan yang tidak tahu aturan, ‘tidak tahu tempat atau kodrat.’ (Entahlah, mungkin karena ajaran seusia semesta, bahwa perempuan menerima hidup yang digariskan kepadanya, alih-alih memperjuangkan hidupnya sendiri.)

Memang, bahasan diskusi ini akan terbentur di filosofi pikir, “Kalau itu konteksnya bercanda, kenapa harus dianggap terlalu serius? Jadi, sejauh mana kita ‘boleh bercanda?”

Agaknya, saya bisa menjawab apa yang saya pahami, “Bercanda jadi valid, ketika obyek yang dijadikan bercandaan merasa nyaman dan aman. Ketika dia tidak merasa bahwa bercandaan itu lucu, maka, bercandaan itu tidak seharusnya dilakukan. Apalagi, kalau konteksnya perempuan, yang sudah terlatih untuk diam, tidak protes, bahkan ketika dia tidak suka diperlakukan tertentu, tidak suka dibicarakan tertentu.”


Jadi, menurutku, agaknya kita harus berhenti untuk menjadikan proses “menggoda” atau “ngecengin” terhadap seseorang (terutama, dari seorang laki-laki terhadap perempuan), sebagai sesuatu hal yang “lucu” atau “lumrah.” Jangan juga menganggap bahwa kita sudah “melakukan kebaikan, karena telah menjodohkan seseorang.” (Ya, walaupun, saya nggak tau dari aspek agamanya masing-masing, ya).

Kamu tidak tahu apa yang tidak kamu ketahui. Satu-satunya yang perlu kamu dengar adalah suara protes, suara perlawanan, suara yang sering kali sangat kecil intensitasnya, karena perempuan terbiasa untuk disuruh ‘menyimpan’ ….

Ketika perempuan (dan jenis kelamin apapun) sudah merasa tidak nyaman, tidak suka “dicengin,” berhenti. Bukan urusanmu kenapa dia tidak suka. Pokoknya, kalau dia sudah memohon, berarti dia tidak suka, tidak merasa aman. Kamu pun tidak suka kan kalau hal yang tidak suka diperlakukan kepadamu?

Mau pada akhirnya mereka memang benar-benar “jadi,” itu bukan urusanmu. Bukan urusanmu.

Yang jadi urusanmu adalah memperlakukan orang lain dengan hormat, sebagaimana engkau ingin diperlakukan.


“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.”


Jumat, 19 Februari 2021

Di Tengah Ketidaknyamananku Sendiri, dan Perasaan tidak Aman


Leave a comment