“Aku RINDU SEKALI.”
“Eh, udah lama banget ya. Pa kabar lo?”
“Hey, aku rindu….”
“Hey, sekarang sedang di mana”
“Hello, been a while”
.
.
“Ngapain sih kak?” Pertanyaan itu bukan sekali dua kalinya dilayangkan oleh adikku yang masih belia.
“Oh, nggak apa-apa. Hanya ingin menghubungi teman lama. Tapi bingung.”
“Ngehubungin ya tinggal hubungin aja, susah…”
Aku hanya tertawa tipis.
“Tapi kalau udah gede nggak semudah itu, b*go”
“Lah, elu lah yang b*go. Eh, nggak deng, emang orang dewasa aja yang aneh.”
“Oiya? Kok berasa pinter banget?”
Adikku itu terdiam sebentar sebelum balas menjawab,
“Heran aja gue sama kalian. Nggak kuat nahan berbuat dosa malah teriak-teriak ‘kafir’ ke orang lain, suka makan ‘panggang’ dan ogah lari tapi cita-citanya hidup 100 tahun, dan yang kayak lo begini nih.
Tidak pernah berhenti mencintai tetapi memutuskan untuk pergi, rindu setengah mati, tapi menyerah sapa hanya karena sebatas asumsi. Siapa yang beg*?”
“Elu lah, karena mau aja jawab orang yang udah jelas keras kepala dan b*go”
.
.
Ya begitulah. Namanya juga kakak beradik.
.
.
vae
sajakberderak – 26
lidyasihombing
2018.02.01
Bus Transjakarta
