Cerpen Juara III di Ellunar “Town Sweet Town” Festival – 2015
“Kulo wes pamit yo.”
Lama aku terdiam di sana. Bahkan persimpangan jalan yang ramai, hingar-bingar perempatan jalan seakan tunduk dalam diamku, memberikan waktu untukku bersua dengan tiang titik nol kilometer ini.
Perlahan, mataku mulai berkabut. Sedikit aneh membayangkan aku bisa sesedih ini berpisah dari tiang besi tak bersuara. Pelan, aku mengelusnya seakan-akan ia adalah anak kucing yang bisa balas menggesek-gesekkan bulu-bulu lembutnya ke tanganku.
Telapak tanganku bergerak naik turun, mataku terpejam. Rasa ragu mulai menyeruak dalam dadaku. Benarkah keputusanku? Apa yang kukenali dari negeri yang bangsanya bahkan pernah menjajah eyang dari eyang kakung?
Aku bahkan tidak fasih benar bahasanya. Memangnya aku bisa hidup bahagia di sana? Apakah aku akan punya teman? Bukankah…. Bukankah kalau di sini aku bisa membantu ibuk mengurus adik-adik?
Kembali aku menghela nafas panjang.
“Hello. It’s been long.” Aku pasti sudah terdiam sangat lama sampai-sampai aku tidak sadar ada orang yang telah berdiri di hadapanku.
“A… Yess.” Bukan hal yang aneh bagi kami apabila ada turis, atau yang kami sebut bule, berkeliaran di sepanjang jalan-jalan Jogja.
Perlahan, kuangkat kepalaku menatap lawan bicaraku dan kemudian, tenggorokanku tercekat.
Sekelebat, pemandangan seorang pria, bermata biru, berambut blonde memenuhi pandanganku. Dua tas bacpack besar tersampir di punggung dan di dadanya. Bau keringat menguar dari kausnya yang basah. Secara keseluruhan, Ia tidak lebih dari turis standar yang berlalu lalang membelah jalanan kota dengan sejuta kesopanan ini. Tetapi bola mata biru itu terlihat begitu dalam, begitu tenang, begitu jujur, begitu mempesona, namun sangat misterius. Aku yakin baru menatapnya hari ini tetapi sesuatu dalam matanya seakan tidak asing.
“Aa. Sorry. Actually it’s not you.” Katanya tenang.
“Aaa, I see.” Aku menunduk malu. Sial! Tentu saja orang itu tidak mengenalku.
“Nah, it’s okay.” Kali ini ia menatapku sekali lagi. “We have some common sense here. His power is intoxicating indeed.”
“He?” Aku menatapnya bingung. Alih-alih menjawab, matanya malah beralih ke tiang itu, menatapinya kagum seakan-akan ia adalah patung pujaan.
“Many people never brave enough to restart all over again. Our environment today teach us about instant result, creating fear and insecurity here and there. Not many people realize that like this statue, everything needs to be climbed up again from zero.”
Suaranya seakan berputar-putar di zona ruang dan waktu yang hanya dimiliki oleh aku, dia, dan tiang ‘keramat’ ini. Seumur hidup aku berlalu lalang di sini tetapi tak sekalipun aku yakin mengapa aku menyukainya, menyukai tiang bisu.
Dan sekarang, pria ini seakan ada di sana, menarik kesimpulan dari labirin rumit tentang alasan-alasan mengapa aku sering kemari, ketika aku akan masuk SMA, ketika pria brengsek itu membunuh kakakku, ketika hatiku dijadikan permainan, ketika ibuk menyinggung masalah perjodohan, ahh, aku bahkan tidak semuanya masih kuingat.
Aku memilih untuk tidak terlalu mengingatnya. Bagiku, berlari ke tiang di tengah jalan ini adalah salah satu cara memberikan kelegaan tersendiri dan kelegaan itu selalu datang. Jadi, buat apa lagi aku mempertanyakan hal yang justru membuatku gundah?
Dan hari ini, aku seakan dibuat mengerti, kenapa aku selalu kembali. Perkara sederhana, amat sederhana.
Perlahan, kuangkat tanganku hendak menjabat tangannya. Senyum tak pernah luput dari dalam wajah teduhnya, “I’m a local here in Jogja, my name,”
“Keep it.” Suaranya berujar jenaka.
“It’s a pleasure to meet you. But like maze, I’d like to keep it as a secret. Next time we meet again, just make sure you remember me.”
Aku hanya terdiam. Perlahan, ia tersenyum, membungkuk, lantas punggungnya berbalik, menjauh, menghilang ke perempatan jalan ke arah kantor pos kota Jogjakarta, merambah jauh ke arah benteng Vredeburg, terus menjauh ke arah taman pintar, dan kian menghilang.
Aku hanya terdiam. Sesuatu dalam kepalaku seakan berusaha keras memutar memori yang pernah tercipta tetapi batinku seakan menjerit-jerit, ‘Itu hal yang sia-sia! Kau tidak akan pernah dapat mengingat sesuatu yang tidak pernah terjadi!’
Kugelengkan kepalaku. Pergulatan batin dan pikiran singkat yang baru saja terjadi tiba-tiba membuatku pening. Dengan tegap, sol sepatuku kembali membelah jalanan Malioboro perlahan.
Keraguan-keraguan atas keputusanku seakan sirna perlahan dengan cara-cara yang tidak aku duga. Pertemuan ini seakan menjawab banyak hal dengan unik.
“Tetapi siapa sesungguhnya dia?” Hal ini menjadi satu-satunya yang tinggal bisu di dalam dada.
“We meet again, Lana. But just like years, you never remember me and keep on introducing yourself over and over again…” Pria bule itu tersenyum.
“Kau masih gadis unik di persimpangan jalan yang terdiam dan ragu. Aku mengenalmu tetapi kau malah seakan tidak mengenal dirimu sendiri. Bagimu ini satu pertemuan, bagiku, ini hanya menambah satu lagi dari pertemuan-pertemuan kita.”
20 Mei 2015
Kamar Kosan, Kukusan Kelurahan, Depok, Beji
