Saat mengetik ini, saya sudah tidak tidur selama nyaris 30 jam. Deadline tugas sekolah magister menumpuk, juga berbagai urusan administrasi imigran yang memantau lekat. Belum lagi, saya sedang dalam kereta menuju kota yang jaraknya 2.5 jam dari tempat saya tinggal. Mencari tukar tambah sepeda, setelah bagian sepeda saya ada yang dicuri Desember lalu.
Sepanjang perjalanan, seorang perempuan sedang “ngangon” tiga orang anak sendirian. Dua balita, satu batita. Mereka bicara dalam salah satu bahasa Afrika. Si batita tak kunjung berhenti berteriak-teriak, mencari perhatian. Dua anak balita lainnya turut berpindah-pindah dari satu kursi ke yang lainnya. Sesekali menangis, membanting handphone. Si ibu terlihat lelah dan kacau sekali.
Terus terang, teriakan itu membuat saya sakit kepala. Bombardir deadline dan overthinking yang mendera belakangan ini membikin saya ingin marah. Dua gadis rambut pirang yang tadinya duduk dekat saya telah lama menyepi. Sepertinya sama tidak tahannya. Sayangnya, saya tak bisa pindah duduk. Saya memang harus duduk di sini, karena ini area khusus penumpang yang membawa sepeda.
Marah, kesal, mengantuk, semua bercampur jadi satu.
Namun, sebagaimana saya yang terlampau suka berpikir panjang, pikiran saya terbang ke tempat-tempat lain. Saya terpikir soal urusan perempuan dan (pemaksaan) jadi ibu.
Perempuan yang membawa tiga anak itu hebat sekali, betul. Kalaulah di Indonesia, mungkin masyarakat akan berbondong-bondong membahas konten “Ibu hebat, ibu kuat.” Saya pun perempuan seperti itu, kalau konteksnya berbeda. Mungkin, bila saya cukup tidur, atau sedang menulis untuk brand.
Namun, di tulisan ini, saya ingin bicara soal ketidakmampuan saya menjadi perempuan yang seperti itu. Yang seperti ibu ini, di depan mata saya. Pun saya turut bicara soal ketidakmauan saya, soal filosofi dan logika pikir saya, bahwa kalaulah saya yang ada di posisi beliau, maka saya pasti akan betul-berul gila. Saya mungkin sudah masuk institusi kejiwaan karena kedapatan membanting anak saya.
Tulisan saya bicara soal romantisasi perempuan yang menjadi ibu, tetapi tidak kepada mereka yang TIDAK MAMPU ataupun MAU. Perempuan-perempuan seperti saya. Yah, mungkin itu lah yang membuat baru-baru ini, teknologi berkembang ke pembuatan rahim sintesis. Entahlah.
Kereta berjalan, terus membelah kegelapan. Rasa kantuk masih memenuhi diri saya, belum lagi kelelahan. Mungkin perempuan si ibu tadi juga sama, atau lebih parah (daripada saya).
Yang jelas, bagi saya, brengsek betul kalau perempuan seperti beliau dicap keren, sementara perempuan seperti saya dinilai gagal. Gagal memenuhi nilai-nilai perempuan, karena saya tak mau jadi ibu, dan lebih memilih untuk sibuk di hal lain, seperti karir dan edukasi.
Kami sama-sama perempuan berjuang, melawan arus yang dipaksakan oleh patriarki dan laki-laki, sepanjang usia bumi. Jadi, kenapa ada yang “lebih” dan “kurang” di porsi yang berbeda ini?
#byL – Stasiun Coevorden, Belanda
23 Januari 2022, 18.34 ETC
