
“Lo ke mana sih, abis skripsi langsung ngilang? Gue chat bolak-balik dari dua minggu lalu nggak dibales. Katanya sidang lo udah kelar hari Senin kemaren. Kata ayang Dimas, anak-anak kampus lo udah pada ngirim hard copy juga ke TU. Lo masih idup nggak sih? Update doang ke IG, bales chat nggak pernah. Kan udah janji mau makan bareng di Kota Kasablanka besok siang? Lupa lagi lo?”
Renata meringis membaca chat itu, sembari mengutuk dirinya sendiri kala melupakan janji yang sesungguhnya sudah kepalang dia buat sejak awal tahun. Rasanya dilema kalau harus membagi antara ikut teman-teman SMA yang sudah sejak lama mendukungnya, atau harus datang ke Sabuga.
Yah, tapi sekarang ia sudah ada di travel menuju Bandung. Lebih lagi, ia juga tidak bisa bilang soal kenapa pula ia harus ke Sabuga, kan?
Betul sekali. Renata tidak pernah cerita soal siapa yang ada di Sabuga. Atau, kenapa perjalanannya ke Sabuga ini penting. Yang seakan-akan harus dibela-belainya sedemikian rupa. Yang sampe pengumpulan dan pencetakan hard copy skripsi nya pun harus ia kebut, sampai abang-abang photocopy nya marah. Yang sampe setelah ngumpulin hard copy, ia langsung buru-buru nyari travel ke Bandung yang cuma berselang 3 jam. Iya, dia baru ngumpulin hard copy hari ini, berkemas mau ke Bandung hari ini, dan jalang ke Bandung hari ini. Semua demi supaya dia bisa sampai di Sabuga, sebelum hari besarnya.
Sekali lagi Renata menimbang. ‘Kasih tau nggak yah, kasih tau ngga yah?’
Belum sempat pikirannya tersimpulkan, ponselnya bergetar, ‘Lalita is calling.’ Ragu-ragu, Renata menekan tombol hijau yang berpendar.
“Ya, Li. Kenapa?”
“Apanya yang kenapa anjir? Lo ke mana sih? Ditelpon nggak diangkat. Mau sidang juga nggak ngabarin. Gue bahkan tau jadwal sidang lo dari Dimas. IG tapi aktif. Sekarang buat janjian besok juga nggak ada kabar. Lo kenapa sih?”
“Nggak apa-apa. Sibuk aja. Lo kayak nggak tau gue. Perasaan udah lama temenan.”
“Yah tapi kan lo udah janji mau jalan-jalan sama kita. Kalau nggak jadi bisa, yah mbok yah kabarin gitu loh. Kayak nggak ngehargain aja sih kalau lo nggak ngabarin, tiba-tiba ngilang.”
Renata meringis. Ada benarnya juga ucapan Lalita ini. Biar bagaimanapun, ia bersalah juga karena tidak memberi kabar ataupun kepastian.
“Sorry yah, Li. Gue sibuk banget ngejarin skripsi, sidang, sama hard copy. Lo tau kan gue kecemplung di jurusan ini. Jadi gue struggle banget biar bisa lulus.”
“Gue nggak masalah sama itu. Gue masalah sama lo nggak ngabarin gue sama sekali. Barang chat tiga baris, Ta,” terdengar Lalita menarik napas. Renata tau bahwa Lalita, sahabatnya itu pun merasa tidak enak karena membombardir dirinya begini. Biar bagaimanapun, Lalita adalah orang yang paling tahu bahwa kalau Lalita sudah tenggelam dalam pikirannya, ia tidak bisa banyak diganggu gugat.
“Look, I’m sorry too, Ta. Gue tau harusnya gue nggak marah-marah. Mungkin hmm, apa yah, gue juga khawatir kali yah, lo nggak ada kabar gitu, tiba-tiba. Biasanya lo selalu ngabarin kalau ada apa-apa. Ini tiba-tiba ngilang. Awal-awal skripsian gue paham sih. Dimas cerita kalau bidang skripsi lo emang berat. Tapi makin ke belakang, pas ilang sama sekali, perasaan gue gak enak aja. Gue ngerti kalau lo butuh banyak ruang sendiri. But, well… This time, it’s a bit too much. Ya udah, sekarang lo ada di mana sih?”
Renata pun langsung menelan ludah kala Lalita bertanya satu hal itu. ‘Bilang nggak yah, bilang nggak yah?’
“Heh, di mana lo? Jawab? Jangan bilang lo dibawa kabur sama sugar daddy?”
“Enak aja. Nggak lah.”
“Terus lo dimana?”
“Di travel, Li.”
“ANJIR YAH. UDAH JANJIAN SAMA TEMEN, MALAH JALAN-JALAN SENDIRI. IDIH GUE MARAH BANGET. LO TRAVEL KE MANA?!”
Renata sampai harus menjauhkan ponselnya karena teriakan Lalita yang sedemikian keras, “Aduh, maaf-maaf.”
“GAK USAH MAAF-MAAF. TRAVEL KE MANA LO?”
Renata menarik nafas, sebelum akhirnya berujar perlahan, “Ke Bandung. Ini udah di km 80.”
“ITU LAGI! CUMA KE BANDUNG NGGAK NGABARIN! KENAPA SIH? MAU NGAPAIN EMANG? Kalaupun emang mau semedi kan tinggal bilang! Kayak gue bakal ngelarang aja. Cuma hargain kek yang udah janjian.”
Renata berdecak. Rasa kesal, namun juga bersalah masih memenuhi dirinya. Tapi ia sadar, rasanya pembicaraan ini tak bisa dihapuskan begitu saja. Cepat atau lambat, Lalita, satu dari sedikit orang-orang terdekatnya rasanya memang harus tau.
“HEH, JAWAB! Ngapain lo ke Bandung?”
Akhirnya, dengan perpaduan rasa kesal, marah, dan tertangkap basah, Renata menjawab dengan kasar, “Mau ke Sabuga! Emang kenapa? Lo mau ke sini juga?”
Lalita lantas terdengar bingung, “Sabuga? Itu tempat apaan? Perasaan nggak ada yang hype di situ?”
Renata mengusap wajahnya kasar. Kalau Lalita ada di depannya sekarang, pasti ia sudah menjedotkan kepala lantaran kesal, “Sabuga itu sejenis hall gitu doang kok. Biasanya buat wisuda.”
“Lah, ngapain ke hall wisuda di Bandung? Kan wisuda lo nggak di sana? Aduh, masa lo udah mau ninjau gedung buat kawinan?! Perasaan lo nggak pernah bilang udah punya pacar.”
Renata meringis, sembari menggumam dalam hati, ‘Yah ini kan makanya lagi diusahain. Eh gimana.’ Tapi kan dia nggak mungkin ngomong gitu yah. Jadi, akhirnya, Renata menjawab, “Yah enggak lah, anjir. Di tongkrongan mah yang ada juga lo yang nikah paling duluan. Percaya ama gue.”
“Bodo amat ah, jangan ngalihin isu. Lo ke Sabuga mau ngapain? Ada apa di sana?”
Skak mat. Dalam pikiran Renata, inilah akhirnya sudah. Mau-tak-mau, ia harus cerita, bukan? Jadi, ia bergumam pelan, “Mau ke wisuda orang, besok. Makanya gue nggak jadi jalan sama kalian besok. Soalnya gue mau ke wisuda di Sabuga.”
“Hah?! Wisuda siapa? Anak semageran lo mana pernah mau dateng ke wisuda orang. Bohong lo ya?”
“Seriusan, Li. Ini kalau diceritain bisa panjang banget. Tapi, intinya, gue besok mau ke wisuda orang di Sabuga. Makanya gue nggak bisa tepatin janji jalan-jalan bareng sama kalian. Gue harus dateng ke wisuda orang ini, udah gitu aja.”
“Siapa sih, Ta? Temen kuliah lo? Dimas kenal?”
“Enggak, bukan. Eh, maksudnya, iya, gitu deh.”
“Mana yang bener? Temen apa bukan?”
“Temen. Iya, temen doang.”
“Terus ngapain lo bela-belain ke wisuda orang sampe beda kota gitu, kalau ‘cuma temen?”
‘Aduh Lalita ini kalau ngomong sakit juga yah. Pantes sih jadi temen gue,’ Renata cuma bisa membatin, sebelum melanjut, “Yah, karena emang cuma temen, Li. Masa temen nggak boleh dateng ke wisuda temennya sendiri?”
“Yah tapi lo kemaren wisudanya Naya, satu circle sama kita aja, lo nggak dateng loh. Alesannya capek praktikum….”
“Eh, itu emang gue beneran capek praktikum yah.”
“Iya, tau. Gue gak masalahin. Yang gue masalahin kenapa, terus sekarang lo nggak capek buat ke wisuda orang, setelah abis sidang skripsi, dan langsung rally, ngejar hard copy? Apa bedanya? Beneran cuma temen? Lebih penting dari Naya gitu, yang udah sama lo dari SMA?”
Renata mulai jengkel, walaupun ada bagian dari dirinya yang setuju, “Apaan sih? Nggak ada hubungannya sama lebih penting dari Naya apa enggak yah.”
“Yah terus? Ini beneran cuma temen doang? Sama kayak Nuel yang waktu SMA lo bilang cuma temen doang, ternyata lo udah suka diem-diem selama 2 tahun. Yang baru abis dia jadian ama temen satu klub lo pas SMA, baru lo dateng ke rumah gue, cerita sambil nangis-nangis, bahwa sebenernya lo nggak pernah nganggep dia ‘cuma temen?’ Temen kayak gitu juga, apa beda lagi?”
Mati lah Renata, tidak bisa berkutik. Namun rasanya, ia masih enggan untuk bercerita soal siapa yang ada di Sabuga, yang harus ditemuinya itu.
Maka dengan dalih kehilangan sinyal, Renata berpura-pura, “Li, Li? Halo, halooo? Lii, kayaknya ilang sinyal nih. Liiii.”
“Heh, jangan boh,”
Tut. Renata lekas menekan tombol merah di ponsel itu. Biarlah. Ia tak perlu cerita dengan siapapun soal siapa yang ada di Sabuga itu hari ini juga.
Mungkin besok, setelah pulang dari Sabuga.
Mungkin
28 Januari 2022
Groningen, Belanda
#bandung #storyaboutcities #sabugaITB
