Sebuah Prolog
“Sesederhana aku hanya ingin kau tetap di sini.”
Mungkin bisikan itu akan luput di antara hujan, jauh di dalam hatinya.
Bintang, nama gadis itu. Seperti sang benda langit, Ia dikenal amat kuat, hangat, lembut, bercahaya, dan berbahagia. Siapapun merasa ia memiliki segalanya, sempurna, lengkap. Bintang amat indah, seperti putri yang bercahaya.
Tetapi sebagaimana hakikatnya suatu ciptaan di bawah kolong langit, tidak ada yang sempurna. Tidak ada yang lengkap. Tidak ada. Omong kosong bila sesuatu dapat dikatakan ‘sempurna’. Kesempurnaan adalah nol, kesempurnaan adalah mati, saat mata menutup dan nafas habis, itulah kesempurnaan. Aneh? Tidak lah! ‘Kesempurnaan’ terjadi ketika semua sudah tiada lagi.
“Bintang, aku sangat bahagia,” suara itu bersuara dengan lantang.
“Wow! Baru sekali aku mendengarmu bicara seperti itu! Penuh semangat!”
“Bagaimana menurutmu?”
“Hmm, kau ingin aku menjawab seperti apa?”
“Jujurlah saja…”
“Aku rasa dia cocok denganmu.”
“Kau sendiri? Kau tidak berminat untuk menemukan kebahagiaanmu?”
Dan senyum lebar terkembang di wajah bintang, “Ah, untuk apa, aku ini kan seperti bintang. Aku menciptakan cahaya bahagiaku sendiri, dan aku tidak bisa ditebak”
Keduanya tertawa, tergelak, amat bahagia.
Yang satu sepenuh hati…
Yang satu, bersembunyi dengan rapi.
“Bintang, mauhkah kau menceritakannya sekali lagi?”
“Menceritakan apa?”
“Tentangmu.”
“Yang mana?”
“Awal perjumpaan kita itu…”
“Hmm… Mengapa?”
“Hanya ingin mendengar saja.”
“Hmm, baiklah. Hanya karena ini hari yang bahagia….”
Maka Bintang mulai membuka suara, “Hari itu hanyalah suatu hari lainnya di awal musim panas. Kau…..”
———————- Bersambung ———————–
Depok
Desember 2, 2016
