Sebuah Permulaan (Lagi)

“Tidak pernah ada kata terlambat untuk hal apapun”

Aku mengetik kata-kata ini sembari mendengarkan suara musik natal yang sudah mulai berputar, di suatu hari menjelang akhir November. Rasanya lucu sekali, bila didasarkan pada acuan motivasi sekuler, untuk merasakan hal-hal ini justru di bulan-bulan terakhir menuju tenggelamnya 2016.

2016 baru saja menutup suatu satuan usiaku dan sekarang, aku duduk di sini, di tengah keramaian stasiun kereta, membuka kopor berisi segudang tanggung jawab baru dari kehidupan, juga mimpi-mimpiku yang kupilih sendiri. Aku hanya sedang sanggup termenung, meneguk kopi, buta sama sekali atas rasa-rasa yang kualami.

Kata-kata itu benar, tak terbantahkan bahwa kita memang selalu punya kesempatan untuk permulaan yang baru, seperti apapun titik mulanya. Namun, perlu sedikit diluruskan, terkadang kita pikir kesempatan sama dengan kemudahan, sementara keduanya jelas berbeda. Kesempatan tidak harus selalu beriringan dengan kemudahan, tetapi bila karena itu aku melepaskan si kesempatan itu, maka tamatlah hidupku seperti yang sebelum-sebelumnya.

“Anak panah harus ditarik mundur demi bisa terbang, meluncur lebih cepat lagi”

Aku akan memulai sekali lagi, berkali-kali lagi, apapun yang ditawarkan kehidupan akan kuterima, kuperjuangkan, dan kuikhlaskan sebagaimana yang diminta Sang Pencipta, sederhana, namun boleh jadi dirumitkan olehku sendiri : taat dan setia.

Jakarta Timur,

29 November 2016


Leave a comment