#UR2 – Kemungkinan

Kemungkinan

Menurutmu, berapa persen kemungkinan orang terkasihmu, yang masih sehat walafiat dan berbicara denganmu saat ini, akan meninggal besok dengan keadaan mengenaskan? Dulunya kupikir, mendekati nol persen.

—- Kemungkinan  —-

3 tahun yang lalu, awal semuanya bermula

“Halo, namaku Yuna.” Suara anak perempuan itu terdengar begitu tenang.

Tanpa disangka-sangka, seseorang dari antara para anak perempuan lainnya yang sedang duduk manis bersama-sama berdiri dan menghampirinya, dan menjabat tangannya dengan tenaga dalam, “Selamat datang Kak Yuna, namaku Bintang! Senang sekali berkenalan dengan kakak!”

2 tahun yang lalu, ketika babak mulai bercerita

Suara pintu diketuk dengan amat keras mengusik indera pendengaran Bintang.

“Kak Yuna, kok suka sekali sih bermain di kamar, sendirian? Yuk kita ngobrol saja di luar. Bulan ini kita akan mulai arisan. Lumayan untuk tambahan uang jajan eyeliner, kan?”

Bintang hanya mengusap matanya, malas, “Aku mengantuk, Yuna. Lain kali saja ya. Praktikum membuatku tidak tidur sama sekali, hari ini.” Dengan gerakan cepat, Bintang hendak menutup pintu, namun yang tak disangkanya, gadis itu lebih cepat lagi, tanpa disadarinya ia sudah berada di luar kamar, berpakaian piyama, dan ditarik dengan penuh semangat oleh si anak perempuan itu,

“Kakak-kakak semua, Bintang sudah sepakat ikut arisan!” Suaranya menggema memenuhi gedung kosan itu.

Bintang mengumpat dalam hatinya, namun akhirnya mengikuti juga.

1 tahun yang lalu, ketika kehidupan mulai bermain-main

Satu kejadian di malam itu membuat Bintang dan Yuna menjadi teman dekat, sangat-sangat dekat. Satu penuh semangat, satu masih tetap menjaga kharisma nya, tidak banyak bicara.

Bintang sepertinya memang kelebihan hormon yang membuatnya terus menerus bersemangat, dan di lain pihak, Yuna menikmati saat-saat Bintang menumpahkan hormonnya yang seakan tidak pernah habis itu.

Namun, ada yang sedikit berbeda malam itu, Yuna sudah bertekad untuk menceritakan suatu hal yang sudah dipendamnya cukup lama, mumpung Bintang sedang berkunjung ke kamarnya, dan mereka telah selesai menonton episode terakhir sebuah drama televisi.

“Bintang, menurutmu, apakah anak pemilik kosan kita, yang laki-laki itu, terlihat seperti pria baik-baik?”

Yuna yang mendegarkan hal itu segera berpindah ke posisi duduk, dan tiba-tiba menjadi semakin bersemangat,

“Ya! Dia baik sekali! Bayangkan, dia terus menerus memberiku macam-macam hal; buku komik kesukaannya, mengajak menonton sepak bola dan konser musik bersama; mengundangku ke latihan konser orkestranya; memberikan rekomendasi film bagus, ah banyak sekali deh! Dia baik sekali ya?”

Dan detik itu, Yuna sadar, ia telah melakukan kesalahan.

Maka empat minggu berturut-turut, Yuna dengan sengaja menghindari kamar Bintang, juga menghindari bertatapan dengan pria itu, anak pemilik kosan yang diam-diam telah mencuri perhatiannya. Bintang yang terus berusaha menjangkaunya melalui pesan singkat, mengetuk pintu kamar, bahkan datang ke laboratorium praktikum nya diacuhkan begitu saja.

Yuna tidak pintar mengungkapkan perasaan dalam hatinya, selalu seperti itu setiap kali seorang pria mencuri hatinya. Maka pikirnya, biarlah seperti ini saja, mungkin pria itu memang sudah memilih.

Empat minggu itu pun berpindah kepada durasi yang lebih panjang, dan secara resmi, Bintang dan Yuna tidak pernah menjadi sama lagi.

6 bulan yang lalu, ketika kejutan kehidupan datang

“Mas Andre, astaga, mengejutkan aku saja.” Yuna terlonjak ketika tiba-tiba seseorang muncul di sampingnya yang sedang memasak di dapur kosan.

“Hai Yuna, Bintang tidak bicara apa-apa padamu?” Yuna terdiam. Momen langka seperti ini, ketika dambaan hatinya memberanikan diri bicara padanya harus dimanfaatkan dengan baik.

“Bicara apa, Mas?”

“Dia sudah pindah kosan, kemarin sepertinya saat aku pergi ke Semarang selama 5 hari, dia secara resmi pindahan, tapi aku tidak tahu ke mana. Pesan-pesanku juga tidak dibalas. Aku ingin tahu apakah ia berbicara padamu atau tidak mengenai hal ini.”

Yuna terpaku. Bintang pindah kosan? Sebegitu enggan nya kah ia berhubungan dengan Bintang kembali sampai-sampai ia bisa tidak menyadari hal ini? Tapi sejujurnya, ia lebih merasakan iri. Andre, pujaan hatinya sejak lama itu tetap saja mencari Bintang, di momen-momen langka seperti ini, bukan dirinya.

“Tidak Mas. Tapi nanti kalau aku sudah tau, aku akan mengabari mas.”

“Ah, baiklah. Nanti aku akan mengirimu pesan. Dulu Bintang pernah menitipkan nomormu padaku, katanya kalau tiba-tiba ponselnya mati, mengingat ia sering bersamamu dulu, ia bilang aku cukup menghubungimu saja.”

Hati Yuna semakin panas mendengarnya, namun ia tidak banyak merespons, selain berkata “Baik, Mas.”

“Ah, aku rasa aku harus segera berangkat ke kantor, Yuna. Sampai jumpa.”

Dan yang Yuna tidak sangka-sangka, pesan itu benar-benar datang, kurang dari tiga jam setelahnya,

Hai Yuna ini nomor Andre. Jangan lupa disimpan ya^^’

Oh kawan, kau tidak tahu betapa bahagianya Yuna saat itu!

 

Dua hari yang lalu

“Ya ampun kak Yuna! Sudah lama sekali kita tidak berjumpa! Aku kangen deh! Besok aku mampir ya ke kosan kakak!”

“Oh hah, hai Bintang! Iya, silahkan saja! Aku duluan ya!” Gadis yang disapa, Yuna, hanya mengangkat kepalanya sekilas dari ponsel, kemudian melenggang pergi. Yuna sungguh-sungguh sedang terlalu sibuk mengingat email dari bos nya tiba-tiba datang, membanjiri dengan segudang persoalan, jadi sesungguhnya, kejadian itu pun di luar kendalinya.

Ketika Bintang sudah berlalu, Yuna sedikit terkejut karena ia terkesan mengacuhkan Bintang.

‘Ah, nanti aku kirimi dia pesan singkat saja kalau sudah di kosan.’

Namun pesan itu tidak peran terkirim, karena Yuna ketiduran lantaran terlampu lelah.

Kemarin Siang

Yuna sedang berada di tengah rapat penting ketika chat grup kosannya memberikan notifikasi. Yuna yang biasanya acuh, namun hari ini sedang bosan karena rapat berlangsung berlarut-larut, segera membuka pesan itu :

“Teman-teman, berita dukacita, Bintang meninggal. Tadi pagi, saat ia menyebrang jalan, sebuah bis melaju dengan kencang dan menabraknya, kemudian membuatnya tersangkut di bawah kolong bis. Meninggal di tempat.”

Dan saat itu, Yuna menyesali keputusannya untuk membuka chat grup saat itu juga.

 

Hari Ini

Bintang membuka matanya. Jadi, begitukah ceritanya seandainya ia mau memilih untuk berjalan di atas kaki orang lain barang sejenak, melihat kehidupan dari sudut pandang yang lain?

Tidak ada lagi air mata yang bisa tumpah, bukan karena tidak sedih, melainkan sudah habis. Perasan itu terlalu membuncah, menyesakkan, sampai air mata pun tidak bisa jatuh lagi.

“Saudari Bintang, apakah ada yang hendak anda sampaikan sebagai pesan terakhir kepada saudari Yuna?”

Sebagaimana tradisi yang ada, Bintang diminta berbicara, dan sebagaimana etika baik kehidupan, ada peraturan tidak tertulis, ‘kita tidak membicarakan keburukan seseorang dalam upacara pemakamannya.’

Namun hari ini, Bintang tidak sedang ingin berbasa-basi, karena memang, itulah yang terjadi. Gadis yang terbujur dalam peti itu tidak pernah sama sekali berbuat buruk, benar-benar hanya memikirkan manusia lainnya, bukan dirinya sendiri. Memori putar baliknya, percakapannya dengan Mas Andre yang baru saja terjadi, ahh, mengapalah ia menjadi manusia seperti dirinya sekarang?

Dengan suara bergetar, Bintang hanya mampu berbicara,

“Dunia ini kehilangan seorang yang biasa-biasa saja, dengan hati dan semangat yang luar biasa, suatu cinta yang besar bagi manusia lain, tanpa pamrih. Yuna mengajari kita bahwa hidup seharusnya seperti itu. Bila itu terjadi, maka tidak akan ada lagi ketidakseimbangan.”

Lutut Bintang lemas. Ia tidak tahu lagi harus berbicara apa. Kita selalu berpikir kita yang paling tahu kehidupan, kebenaran, dan masa depan, merancangkan segala hal, merasa diri layak. Sering kita lupakan, kita ini debu, tanah.

—– Kemungkinan —-

“Aku pikir kau tidak akan datang ke acara pemakaman Yuna, Bintang.”

“Tentu saja aku akan datang, Mas. Biar bagaimanapun Yuna adalah orang yang penting untukku. Tetapi maaf aku tidak bisa hadir kemarin, rapat hingga malam hari.”

“Ahh begitu ya…” Andre menundukkan kepalanya.

Dalam kepala Bintang, jutaan pemikiran berkecamuk, berbagai macam kata-kata berlomba-lomba untuk melesak keluar. Namun akhirnya, kata-kata yang keluar amat sederhana,

“Aku turut bersedih karena Mas kehilangan orang yang Mas cintai…” Bintang berujar pelan.

Namun yang tidak disangka-sangkanya sendiri, Andre segara menoleh dan menatapnya lurus-lurus,

“Jadi, kata-kata Yuna itu benar? Spekulasi itu benar?”

“A…. Apa, maksudnya mas?” Bintang merasa sedikit ketakutan. Andre yang menaikkan suaranya tidak terlihat menyenangkan baginya. Sejurus kemudian, Andre menarik napas dalam-dalam dan Bintang tiba-tiba merasakan kesedihannya.

“Aku tidak pernah mencintai Yuna, ‘seperti itu,’ Bintang. Ia perempuan yang menarik, menjadikan aku teman yang baik, bahkan membantuku untuk mendekatkanku pada seseorang yang amat ingin kuperjuangkan tetapi tidak kunjung berhasil, karena orang ini sangat tertutup juga beku. Yuna hanyalah seorang teman yang amat kukasihi, karena ia tidak pernah memikirkan dirinya sendiri.”

Dan detik itu juga, dunia Bintang rasanya hancur berkeping-keping. Jadi, mungkinkah?

“Jadi… Mas?”

Andre hanya menganggukan kepalanya lemah.

“Tetapi sudahlah, ini semua sudah berakhir… Mungkin? Tapi mungkin juga sebenarnya ini adalah awalan.”

Bintang yang tidak tahu harus bicara seperti apa segera mengalihkan pandangannya ke ponsel, membuka-buka pesan singkat dari Yuna, dan disambut dengan 200 pesan tidak terbaca, dan pesan yang paling terakhir berbunyi,

“Kak Bintang, aku harap kakak tidak salah paham. Mas Andre suka sekali dengan musik dan olahraga, kapan-kapan, kita nonton dan bermain bertiga ya, sepertinya seru! Dan nanti kalau-kalau suatu saat aku tidak bisa menemaninya, temani Mas Andre ya. Ia suka sekali ada yang bersamanya saat melakukan hal yang dicintainya, terutama orang yang memang juga dicintainya, (sepertinya sih kakak sudah tahu siapa orang itu kalau sudah membaca pesan ini. Hahahahha^^) Aku sayang sekali dan rindu sekali dengan Kak Bintang. Semoga kita bisa segera bertemu lagi!”

Tangan Bintang bergetar, juga ponselnya mulai basah. Perlahan ia hanya sanggup mengetik.

“Terima kasih telah mengajariku, Yuna. Sampai jumpa lagi.”

———– Kemungkinan ——

 

Menurutmu, berapa persen kemungkinan seorang perempuan remaja yang amat ceria, sederhana, perempuan yang tidak pernah memikirkan dirinya sendiri, akan meninggal besok, tersangkut di bawah bis kota? Ternyata, kemungkinan itu justru mendekati seratus persen.  

 

 

 

 


Leave a comment