Analogi – Dandelion

Ada setitik asa tak terbaca dalam kalbu

Wujudnya sebenarnya nyata namun kupaksa abu-abu

Dirimu…..

Ahh tuan, aku memang puitis dan bisa jadi diplomatis, tetapi aku bukanlah hakim bagi terduga teroris.

Izinkanlah aku sampaikan apa yang kumaksudkan lewat sebuah cerita nyata yang kulihat sendiri pada salah satu perjalananku

Di dunia ini pernah terjadi sebuah peperangan alam semesta,  amat dahysat, melibatkan peluru, meriam dan kawan-kawannya.

Sebagaimana kemalangan di bawah muka bumi, seorang prajurit gagah berani, seorang komandan,  tertembak, tepat di jantung. 

Melihat penembakan, seorang perawat yang melihat dari jauh segera berlari menghampirinya sambil menjerit, “di bagian mana kau tertembak?”

Di tengah desing peluru, tentara itu hanya menjawab dengan teriakan parau“aku baik-baik saja, kawan-kawan kita tertembak lebih parah.”

Perawat itu, dia tidak buta, tidak tuli, tetapi bagaimanalah, ia pun dilatih seperti si prajurit itu, menerjemahkan kata antara kata, bukan yang tak terucap.

Maka ditinggalkannya si prajurit dan dilawatnya korban terluka lainnya, begitu asik sampai dilupakannya sang tentara yang tertembak.

Berjam-jam setelahnya, barulah diingatnya kawannya itu, dan bergegas ia menghampiri tempat terakhir dilihatnya sang kawan seperjuangannya. 

Didapatinya tubuh tak bernyawa, memeluk setangkai bunga dandelion, dan bercak tulisan darah di atas tanah yang nyaris terhapus jejak kaki,

“ILY”

Perlahan hujan mulai turun, duduk bersama di antara dua insan yang membisu.

Tuan, hatiku yang lemah ini amat tersentuh mendengar cerita itu. Cerita yang begitu nyata dan jujur, meski begitu ambigu. 

Tetapi tuan, izinkan aku bercerita suatu fakta lainnya, hanya kepadamu satu-satunya di antara jajaran alam semesta. Alasan yang paling membuatku tersentuh adalah….

Aku ada di dalam cerita itu

Jakarta
2016


Leave a comment